Gambar Animasi Bergerak Senyum

Kamis, 22 November 2018

BUKU-BUKU FISIOTERAPI

Kumpulan Buku-Buku mengenai FISIOTERAPI :


Let'S GO IN..




JUDUL :
Muscle Energy Techniques



JUDUL :
Spinal Manual Therapy



JUDUL :
Fisioterapi Bagi Insan Stroke



JUDUL :
Neuromusculoskeletal Examination and Assessment



JUDUL :
Traumatic Brain Injury



TANDA DAN GEJALA STROKE

STROKE


Apa Itu Stroke ??

Menurut World Health Organization (WHO,1995) stroke didefinisikan sebagai gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinis baik fokal maupun global yang berlangsung lebih dari 24 jam, atau yang menimbulkan kematian, yang semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak.
            Stroke adalah penyebab kamatian kedua di Indonesia dan penyebab utama kecacatan di dunia. Cukup banyak orang Indonesia dirawat di rumah sakit karena Stroke dan komplikasinya. Biasanya Stroke menyerang orang yang berusia diatas 50 tahun tetapi pada kenyataannya banyak menyerang orang di usia muda bahkan di usia kurang dari 30 tahun.
Stroke menimbulkan dampak yang sangat besar dari segi ekonomi karena biaya pengobatan dan perawatan yang sangat tinggi. Disamping itu Stroke juga menimbulkan dampak sosial sebagai akibat dari gejala sisa stroke, sehingga penderita tak lagi bisa bekerja seperti sedia kala, hal ini sering menjadi beban keluarganya dan masyarakat karena tidak produktif lagi.


            Jadi dari definisi di atas ada 4 hal penting yang harus digaris bawahi mengenai stroke yakni :
·         Adanya gangguan fungsi dari otak
·         Terjadi secara mendadak
·         Ada gejala klinis (tanda-tanda), berlangsung lebih dari 24 jam
·         Penyebab adalah adanya gangguan peredaran darah otak.
Lalu siapa sajakah yang berisiko terkena stroke? Dan mengapa?
            Pada prinsipnya, faktor-faktor risiko dari kejadian stroke dibedakan menjadi 2 kategori besar yakni :
1. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi
Usia : Dari berbagai penelitian, diketahui bahwa semakin tua usia, semakin besar pula risiko terkena stroke. Hal ini berkaitan dengan adanya proses degenerasi (penuan) yang terjadi secara alamiah dan pada umumnya pada orang lanjut usia, pembuluh darahnya lebih kaku oleh sebab adanya plak (atherosklerosis).
Jenis kelamin : Laki-laki memiliki risiko lebih besar untuk terkena stroke dibandingkan dengan perempuan. Hal ini mungkin terkait bahwa laki-laki cenderung merekok. Dan rokok itu sendiri ternyata dapat merusak lapisan dari pembuluh darah tubuh. Maka waspadalah!
Herediter : Hal ini terkait dengan riwayat stroke pada keluarga. Orang dengan riwayat stroke pada kelurga, memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena stroke dibandingkan dengan orang tanpa riwayat stroke pada keluarganya.
Ras/ Etnik : Dari berbagai penelitian diyemukan bahwa ras kulit putih memiliki peluang lebih besar untuk terkena stroke dibandingkan dengan ras kulit hitam.
2. Faktor yang dapat dimodifikasi
Hipertensi (darah tinggi) : Orang-orang yang tekanan darahnya tinggi memiliki peluang besar untuk mengalami stroke. Bahkan hipertensi merupakan penyebab terbesar (etiologi) dari kejadian stroke itu sendiri. Hal ini disebabkan karena pada kasus hipertensi, dapat terjadi gangguan aliran darah tubuh dimana diameter pembuluh darah pada nantinya akan mengecil (vasokontriksi) sehingga darah yang mengalir ke otak pun akan berkurang. Dengan pengurangan aliran darah otak (ADO) maka otak akan akan kekurangan suplai oksigen dan juga glukosa (hipoksia), karena suplai berkurang secara terus menerus, maka jaringan otak lama-lama akan mengalami kematian.
Penyakit Jantung : Adanya penyakit jantung seperti penyakit jantung koroner, infak miokard (kematian otot jantung) juga merupakan faktor terbesar terjadinya stroke. Seperti kita ketahui, bahwa sentral dari aliran darah di tubuh terletak dijantung. Bilamana pusat mengaturan aliran darahnya mengalami kerusakan, maka aliran darah tubuh pun akan mengalami gangguan. Termasuk aliran darah yang menuju ke otak. Karena adanya gangguan aliran, jaringan otak pun dapat mengalami kematian secara mendadak ataupun bertahap.
Diabeter Melitus : Diabetes melitus (DM) atau disebut juga sebagai kencing manis, memiliki risiko untuk mengalami stroke. Hal ini terkait dengan pembuluh darah penderita DM yang umumnya menjadi lebih kaku (tidak lentur). Adanya peningkatan ataupun penurunan kadar glukosa darah secara tiba-tiba juga dapat menyebabkan kematian jaringan otak.
Hiperkolesterolemia : Hiper = kelebihan. Hiperkolesterolemia merupakan keadaan dimana kadar kolesterol didalam darah berlebih. Kolesterol yang berlebih terutama jenis LDL akan mengakibatkan terbentuknya plak/kerak pada pembuluh darah, yang lama-lama akan semakin banyak dan menumpuk sehingga lama-lama akan mengganggu aliran darah.
Obesitas : Kegemukan juga merupakan salah satu faktor risiko terjadinya stroke. Hal tersebut terkait dengan tingginya kadar lemak dan kolesterol dalam darah pada orang dengan obesitas, dimana biasanya kadar LDL (lemak jahat) lebih tinggi dibandingkan dengan kadar HDLnya (lemak baik/menguntungkan).
Merokok : Dari penelitian didapatkan, bahwa orang-orang yang merokok ternyata memiliki kadar fibrinogen darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Peningkatan kadar fibrinogen ini dapat mempermudah terjadinya penebalan pembuluh darah sehingga pembuluh darah menjadi sempit dan kaku dengan demikian dapat menyebabtkan gangguan aliran darah.

Tanda Dan Gejala ??

Stroke dapat dibedakan menjadi dua  tipe yang disebabkan oleh ischemik dan hemoragik. Pada stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerotik atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah, melaui proses aterosklerosis. Pada stroke pendarahan (hemoragik), pembuluh darah pecah sehingga aliran darah menjadi tidak normal, dan darah yang keluar merembes masuk ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya.
Secara detil gejala dan tanda stroke adalah:
  • Adanya serangan defisit neurologis fokal, berupa Kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh
  • Hilangnya rasa atau adanya sensasi abnormal pada lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh. Baal atau mati rasa sebelah badan, terasa kesemutan, terasa seperti terkena cabai, rasa terbakar
  • Mulut, lidah mencong bila diluruskan
  • Gangguan menelan : sulit menelan, minum suka keselek
  • Bicara tidak jelas (rero), sulit berbahasa, kata yang diucapkan tidak sesuai keinginan atau gangguan bicara berupa pelo, sengau, ngaco, dan kata-katanya tidak dapat dimengerti atau tidak dipahami (afasia). Bicara tidak lancar, hanya sepatah-sepatah kata yang terucap
  • Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat
  • Tidak memahami pembicaraan orang lain
  • Tidak mampu membaca dan menulis, dan tidak memahami tulisan
  • Tidak dapat berhitung, kepandaian menurun
  • Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh
  • Hilangnya kendalian terhadap kandung kemih, kencing yang tidak disadari
  • Berjalan menjadi sulit, langkahnya kecil-kecil
  • Menjadi pelupa ( dimensia)
  • Vertigo ( pusing, puyeng ), atau perasan berputar yang menetap saat tidak beraktifitas
  • Awal terjadinya penyakit (Onset) cepat, mendadak dan biasanya terjadi pada saat beristirahat atau bangun tidur
  • Hilangnya penglihatan, berupa penglihatan terganggu, sebagian lapang pandangan tidak terlihat, gangguan pandangan tanpa rasa nyeri, penglihatan gelap atau ganda sesaat
  • Kelopak mata sulit dibuka atau dalam keadaan terjatuh
  • Pendengaran hilang atau gangguan pendengaran, berupa tuli satu telinga atau pendengaran berkurang
  • Menjadi lebih sensitif: menjadi mudah menangis atau tertawa
  • Kebanyakan tidur atau selalu ingin tidur
  • Kehilangan keseimbangan, gerakan tubuh tidak terkoordinasi dengan baik, sempoyongan, atau terjatuh
  • Gangguan kesadaran, pingsan sampai tidak sadarkan diri

SRTRECHING

Stretching


Definisi
Stretching adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan setiap manuver terapi yang dirancang untuk meningkatkan pemanjangan jaringan lunak, dengan demikian meningkatkan fleksibilitas dengan memperpanjang struktur yang adaptif diperpendek dan telah menjadi hypomobile dari waktu ke waktu.
Hanya melalui pemeriksaan, evaluasi, dan diagnosis sistematis dari suatu masalah pasien, seorang terapis dapat menentukan apa yang membatasi gerak struktur dan jika, kapan, dan apa jenis prosedur stretching ditunjukkan. Pada awalnya proses rehabilitasi manual stretching dan mobilisasi sendi, yang melibatkan secara langsung intervensi oleh seorang praktisi, mungkin teknik yang paling tepat. Selanjutnya, latihan self-stretching dilakukan secara independen oleh pasien setelah diberi instruksi dan pengawasan yang ketat mungkin intervensi yang lebih cocok. Dalam beberapa kondisi penggunaan perangkat mechanical stretching dilakukan, terutama ketika terapi manual telah efektif.

Pedoman Prosedural Intuk Aplikasi Intervensi Stretching
Pedoman berikut ini adalah pusat untuk pengembangan dan pelaksanaan intervensi peregangan. Hasil pemeriksaan dan evaluasi status pasien menentukan kebutuhan dan jenis peregangan prosedur yang akan paling efektif dalam rencana pasien perawatan. Bagian ini mengidentifikasi pedoman umum yang harus diatasi sebelum, selama, dan setelah peregangan prosedur serta pedoman khusus untuk aplikasi peregangan manual.

Pemeriksaan dan Evaluasi Pasien
  • Hati-hati meninjau sejarah pasien dan melakukan review menyeluruh sistem.
  • Pilih dan melakukan tes yang sesuai dan pengukuran.
  • Tentukan ROM tersedia di sendi yang terlibat dan yang berdekatan dan jika mobilitas baik aktif atau pasif terganggu.
  • Menentukan apakah hypomobility terkait dengan gangguan lain dan jika itu yang menyebabkan keterbatasan fungsional atau cacat.
  • Memastikan apakah, dan jika demikian, jaringan lunak yang merupakan sumber dari gangguan mobilitas. Secara khusus, membedakan antara kapsul sendi, jaringan noncontractile periartikular, dan pembatasan panjang otot sebagai penyebab ROM terbatas. Pastikan untuk menilai bermain bersama dan mobilitas fasia.
  • Mengevaluasi iritabilitas dari jaringan yang terlibat dan menentukan panggung mereka penyembuhan. Ketika bergerak ekstremitas pasien atau tulang belakang, memperhatikan reaksi pasien terhadap gerakan. Hal ini tidak hanya membantu mengidentifikasi tahap penyembuhan jaringan yang terlibat, itu membantu menentukan dosis kemungkinan (seperti intensitas dan durasi) dari peregangan yang tetap dalam jangkauan kenyamanan pasien.
  • Menilai kekuatan otot yang mendasari di mana ada pembatasan gerak dan realistis mempertimbangkan nilai peregangan kisaran-membatasi struktur. Seorang individu harus memiliki kemampuan mengembangkan kekuatan yang memadai untuk mengontrol dan aman menggunakan ROM baru.
  • Pastikan untuk menentukan apa tujuan hasil (yaitu, perbaikan fungsional) pasien berusaha untuk mencapai sebagai hasil dari program intervensi dan menentukan apakah tujuan-tujuan yang realistis.
  • Menganalisis dampak dari setiap faktor yang dapat mempengaruhi hasil proyeksi program peregangan.

 Persiapan untuk Stretching
  • Review tujuan dan hasil yang diinginkan dari program peregangan dengan pasien. Memperoleh persetujuan pasien untuk memulai pengobatan.
  • Pilih teknik peregangan yang akan paling efektif dan efisien.
  • Pemanasan jaringan lunak akan membentang oleh aplikasi panas lokal atau dengan aktif, latihan intensitas rendah.
  • Pemanasan struktur ketat dapat meningkatkan diperpanjang dan dapat menurunkan resiko cedera akibat peregangan.
  • Apakah pasien dalam posisi yang nyaman dan stabil yang memungkinkan pesawat benar gerak untuk prosedur peregangan. Arah peregangan adalah persis berlawanan arah pembatasan sendi atau otot.
  • Menjelaskan prosedur untuk pasien dan memastikan dia mengerti.
  • Free area yang akan membentang dari setiap pakaian ketat, perban, atau splints.
  • Jelaskan kepada pasien bahwa penting untuk sesantai mungkin atau membantu bila diminta. Juga menjelaskan bahwa prosedur peregangan dirancang untuk tingkat toleransi nya.

Penerapan Prosedur Manual Stretching
  • Pindahkan ekstremitas perlahan melalui rentang bebas ke titik pembatasan jaringan.
  • Pegang daerah proksimal dan distal sendi di mana gerakan terjadi. Pegang harus tegas tapi tidak nyaman bagi pasien. Menggunakan padding, jika perlu, di daerah dengan jaringan subkutan minimal, mengurangi sen-personalisasi, atau di atas permukaan tulang. Gunakan permukaan luas dari tangan Anda untuk menerapkan semua kekuatan.
  • Tegas menstabilkan segmen proksimal (secara manual atau dengan peralatan) dan memindahkan segmen distal.
  • Untuk meregangkan otot multijoint, menstabilkan baik segmen proksimal atau distal yang membatasi rentang-otot menempel. Meregangkan otot lebih dari satu sendi pada satu waktu dan kemudian seluruh sendi secara bersamaan sampai panjang optimal jaringan lunak dicapai. Untuk meminimalkan kekuatan tekan pada sendi kecil, meregangkan sendi distal pertama dan melanjutkan proksimal.
  • Pertimbangkan menggabungkan prestretch, kontraksi isometrik dari otot-membatasi rentang (prosedur terus-santai) untuk bersantai otot refleks sebelum peregangan.
  • Untuk menghindari kompresi bersama selama prosedur peregangan, berlaku lembut (kelas I) gangguan pada sendi bergerak.
  • Terapkan hamparan intensitas rendah secara lambat, berkelanjutan. Ingat, arah gerakan peregangan secara langsung berlawanan garis tarikan otot-membatasi jangkauan. Minta pasien untuk membantu Anda dengan peregangan atau menerapkan peregangan pasif untuk memperpanjang jaringan. Ambil jaringan lunak hypomobile ke titik resistensi perusahaan jaringan dan kemudian bergerak hanya melampaui titik itu. Memaksa harus cukup untuk menempatkan ketegangan pada struktur jaringan lunak tetapi tidak begitu besar untuk menyebabkan rasa sakit atau melukai struktur. Pasien harus mengalami sensasi menarik, tapi tidak sakit, dalam struktur sedang diregangkan. Ketika peregangan adhesi sebuah tendon dalam sarungnya, pasien mungkin mengalami "menyengat" sensasi.
  • Mempertahankan posisi membentang selama 30 detik atau lebih. Selama waktu ini, ketegangan di jaringan perlahan-lahan harus menurun. Ketika ketegangan berkurang, memindahkan atau sendi ekstremitas sedikit lebih jauh untuk semakin memperpanjang jaringan hypomobile.
  • Secara bertahap melepaskan kekuatan peregangan dan memungkinkan pasien dan terapis untuk beristirahat sejenak sambil mempertahankan kisaran yang membatasi jaringan dalam posisi nyaman memanjang. Kemudian ulangi urutan beberapa kali.
  • Jika pasien tampaknya tidak mentolerir peregangan berkelanjutan, menggunakan beberapa sangat lambat, lembut, membentang intermiten dengan otot dalam posisi diperpanjang.
  • Jika dianggap tepat, menerapkan prosedur dipilih mobilisasi jaringan lunak, seperti pijat fasia atau pijat crossfiber gesekan, pada atau dekat lokasi adhesi selama manuver peregangan.

Setelah Stretching
  • Terapkan dingin untuk jaringan lunak yang telah membentang dan memungkinkan struktur ini untuk mendinginkan dalam posisi diperpanjang. Dingin dapat meminimalkan nyeri otot poststretch yang dapat terjadi sebagai hasil dari microtrauma selama peregangan. Ketika jaringan lunak didinginkan dalam posisi diperpanjang, kenaikan ROM lebih mudah dipertahankan.
  • Terlepas dari jenis intervensi peregangan digunakan, memiliki pasien melakukan ROM aktif dan latihan penguatan melalui rentang diperoleh segera setelah peregangan. Dengan pengawasan dan umpan balik, memiliki pasien menggunakan rentang diperoleh dengan melakukan pola gerakan simulasi fungsional yang merupakan bagian dari hidup sehari-hari, pekerjaan, atau tugas rekreasi.
  • Mengembangkan keseimbangan dalam kekuatan pada otot antagonis dalam kisaran baru sehingga ada kontrol neuromuskular memadai dan stabilitas sebagai meningkatkan fleksibilitas.

ANALISA POLA JALAN


Analisa Gait (Berjalan)


            
Dalam pembahasan mengenai berjalan, maka istilah gait dan locomotion merupakan istilah yang sering dimunculkan.Gait adalah cara berjalan sedanglokomotion berarti perpindahan dari satu tempat ketempat lainnya, maka berjalan(walking) mencakup gait dan lokomotion.
            Gerakan berjalan merupakan gerakan dengan koordinasi tinggi yang dikontrol oleh susunan saraf pusat dan melibatkan sistem yang sangat kompleks.
            Adanya righting reaction yaitu untuk memelihara dan memulihkan normal posisi kepala yang berhubungan trunk dengan menormalkan aligment trunk dan limbs sedangkan  equilibrium reaction memelihara keseimbangan pada waktu aktifitas terutama pada saat melawan gravitasi dan akan membutuhkan banyak control inhibisi pada level tinggi untuk timbal balik dari bagian perubahan pola gerakan.
            Jalan merupakan salah satu cara dari ambulansi, pada manusia ini dilakukan dengan cara bipedal (dua kaki). Dengan cara ini jalan merupakan gerakan yang yang sangat stabil meskipun demikian pada kondisi normal jalan hanya membutuhkan sedikit kerja otot-otot tungkai . Pada gerakan ke depan sebenarnya yang memegang peranan penting adalah momentum dari tungkai itu sendiri atau akselerasi, kerja otot justru pada saat deselerasi.
            Dalam berjalan dikenal ada 2 fase, yaitu fase menapak (stance phase) dan fase mengayun ( swing fase). Ada pula yang menambahkan satu fase lagi yaitu fase dua kaki di lantai (double support) yang brlangsung singkat. Fase double support ini akan semakin singkat jika kecepatan jalan bertambah, bahkan pada berlari fase double support ini sama sekali hilang, dan justru terjadi fase dimana kedua kaki tidak menginjak lantai.
            Fase menapak (60%) dimulai dari heel strike / heel on, foot flat, mid stance , heel off dan diakhiri dengan toe off. Sedangkan pada fase mengayun (40%) dimulai dari toe off, swing dan diakhiar dengan heel strike (accelerasi, mid swing, decelerasi).
Komponen-komponen penting dalam berjalan normal :
Fase menapak :
a). Ekstensi sendi panggul (hip)
b). Geseran ke arah horizontal- lateral pada pelvis dan truk
c). Fleksi lutut sekitar 15° pada awal heel strike, dilanjutkan dengan ekstensi dan fleksi lagi sebelum toe off
Fase mengayun  :
a). Fleksi lutut dengan diawali ekstensi hip
b). Lateral pelvic tilting kearah bawah pada saat toe off
c). Fleksi hip
d). Rotasi pelvic ke depan saat tungkai terayun
e). Ekstensi lutut dan dorsalfleksi ankle dengan cepat sesaat sebelum heel strike

Definisi Berjalan :
            Berjalan adalah berpindahnya tubuh dari satu titik, ketitik berikutnya dengan cara menggunakan kedua tungkai (bipedal : posisi tubuh selalu tegak selama proses berlangsung). Pola repetisi daripada penumpuan berat badan dari satu tungkai ketungkai yang lain dengan heel – toe striding adalah fenomena yang membedakan manusia dengan hominids yang lebih primitif ( Napier, 1967).
Cycle berjalan :
Satu cycle, dimulai dari heel strike, sampai tungkai yang sama mulai heel strike berikutnya. Interval antara dua steps bisa dihitung jarak dan waktunya.
Stride legth :
Adalah jarak antara dua jejak kaki, pada kaki yang sama. Pada orang dewasa pria jaraknya antara 140 – 156,5cm.
Stride duration :
Adalah waktu yang dibutuhkan untuk jarak tersebut.
Step length :
Adalah jarak antara dua jejak kaki , baik dari kanan ke kiri atau sebaliknya. Jarak rata2nya adalah 68 – 78cm.
Step duration :
Adalah waktu yang dibutuhkan dari heel strike kaki yang satu ke heel strike kaki yang lain.
Cadence :
Adalah jumlah steps permenit, dimana nilai rata2nya adalah 112 – 116 permenit.
            Parameter tersebut diatas bisa kita pergunakan sebagai tolok ukur yang valid dan obyektif dalam rangka assessment, analisa pola jalan pasien. Gait analisis memerlukan pendekatan yang akurat dan tersistem, pada phase stance maupun swing. Pemahaman tentang gerakan2 yang terjadi pada persendiannya serta ROM yang dibutuhkan untuk mencapai pola jalan normal juga diassessment. Misalnya, ditungkai, pelvis dan trunk.

Komponent Gait Normal :
            Seperti telah dibahas, bahwa berjalan membutuhkan alternating support dari satu tungkai ketungkai yang lain. Gerakan reciprocal ini dibutuhkan untuk menerima, menyerap berat tubuh dan torque yang menyertainya, sehingga proses berjalan akan berlangsung secara mulus (smooth), mengalir seperti cairan tanpa ada interupsi dalam proses pemindahan berat tubuh kedepan. Untuk mencapai pola jalan normal tergantung pada 3 kemampuan / task fungsional, yaitu : 1). Weight Acceptance. 2). Single limb Support. 3). Limb Advancement.
Ketiga fungsi tsb berlansung pada bidang sagital ditinjau dari persendian yang bergerak, yaitu : hip, knee, ankle baik pada phase atau sub phase swing maupun stance.

Stance

1. Initial Contact.
Initial contact periodenya sangat singkat. Otot2 tibialis anterior dan extensor jari2 mempertahankan ankle dalam posisi netral selama perode initial contact ini. Hal ini dalam rangka persiapan ankle masuk keposisi untuk melakukan apa yang dikenal sebagai heel rocker, yang terjadi pada loading response.

2. Loading Response (LR).
Pada saat loading response, aktifitas otot pada semua segment beraksi melawan kecenderungan gerakan flexi yang timbul pada saat menerima beban berat badan (terjadi di posterior ankle joint). Kontraksi eccentris drpd otot2 anterior ankle meresponse plantar flexion torque, yang akan membenturkan kaki kelantai (foot flap).
Aksi heel rocker ditimbulkan oleh otot2 bagian anterior, menarik tibia. Sehingga muncul momentum kedepan dan memflexikan lututnya.
Lutut flexi 15° dengan kontrol oleh Quadriceps yang berkontraksi secara eccentris untuk melawan kecenderungan flexion torque akibat dari heel rocker dan posisi tubuh yang relatif berada disebelah posterior kaki.
Dengan kontrol plantar flexion dan knee flexion tadi maka weight acceptance diabsorbsi, stabilitas tungkai tercapai dengan mantap sambil mempertahankan momentum kedepan.
Hip tetap dalam posisi flexi 30° dan pelvis forward rotasi 5°. Rapid, high-intensity flexion torque, adalah torque kedua terbesar yang timbul dalam berjalan, torque ini dilawan oleh gluteus maximus, hamstrings, adductors magnus dan gracillis yang berkontraksi secara eccentris. Pelvis distabilisasi pada bidang frontal oleh kerja otot gluteus medius, minimus dan tensor fascia lata. Dengan kerja otot ini maka kecenderungan terjadinya trunk flexi dicegah

3. Mid Stance (MSt).
Selama midstance ankle perlahan bergerak kearah 10° dalam usaha meningkatkan torque dorsi flexi. Soleus dan gastrocnemius berkontraksi secara eccentris untuk menstabilkan tibia. Tubuh berayun diatas kaki yang stabil tadi dan menkontrol tibia sehingga lutut bergerak kearah extensi. Kejadian inilah yang dikenal sebagai ankle rocker.
Hip extensi bergerak ke posisi netral dengan pelvis rotasi yang ditimbulkan oleh momentum swing drpd tungkai sisi contralateral. Konswekwensi dari peristiwa ini adalah bahwa sebenarnya stabilitas pada stance phase tidak membutuhkan kerja otot2 hip. Selanjutnya pelvis pada bidang frontal distabilisasi oleh grup abductor, yang mencegah pelvis drop disisi contralateral.

4. Terminal Stance (TSt).
Pada terminal stance, ankle terkunci pada posisi netral→dorsiflexi kecil, metarso phalangeal joint extensi 30°. Dorsi flexion torque mencapai puncaknya. Calf muscle tetap aktif untuk mencegah tibia colapse dan membiarkan tumit terangkat sementara berat tubuh berayun kedepan diatas kaki. Forefoot rocker meningkatkan kemaximum forward progression untuk step length. Ada tiga hal kritis yang memungkinkan terjadinya forefoot rocker yaitu : Locked ankle, heel rise dan progression diatas kaki, semua hal tsb terjadi pada periode single limb support. Secara universal terminal stance dikenal dengan istilah push off. (istilah ini kurang akurat bila diterapkan pada pasien dengan amputasi below knee dengan prosthesis).
Lutut tetap extensi saat extensi torque mulai berkurang pada akhir drpd subphase ini. Stabilitas tanpa memerlukan kerja otot.
Hip tetap extensi→ netral posisi, 10° hyperextensi. Posisi ini disebabkan oleh backward rotation pelvis 5° dan oleh extensi di lumbar spine.

5. Pre-swing (PSw).
Walaupun subphase pre-swing adalah periode dimana masih ada double support, tetapi dimasukan dalam kelompok swing, sebab pada phase ini gerakan yang terjadi dilutut sebenarnya adalah gerakan persiapan untuk mengayun tungkai kedepan dan mempersiapkan kaki bebas dari lantai untuk masuk subphase initial swing. Selama pre swing berlangsung, ankle dalam posisi 20° plantar flexi, metetarso phalangeal joint
extensi sampai 60°. Selama periode double support berlangsung, kaki memberikan bantuan balance dan relatif tidak dibutuhkan aktifitas otot. Torque dorsiflexi timbul.
Lutut flexi 30°, secara pasif, walaupun demikian gracillis mulai aktif. Torque flexi terjadi sebagai akibat dari penumpuan tungkai contralateral serta oleh berayunnya tubuh kedepan melewati jari2. Pada saat inilah flexi knee bertambah.
Hip tetap netral→extension dan pelvis backward rotasi. Kedua posisi tersebut dicapai secara pasif. M.Illiacus dan M.Rectus femoris aktif. Torque extensi berkurang sampai nol. Tungkai bersiap untuk diayunkan.

6. Initial Swing (Isw)
Ankle bergerak ke 10° plantar flexion, otot bagian anterior ankle mempersiapkan kaki bebas dari lantai dan masuk subphase initial swing.
Lutut flexi sampai 60° dan kaki bebas dari lantai. Selama periode ini sering terjadi toe drag, karena tidak adequatnya flexi lutut dan dorsiflexi ankle.
Kontribusi dari m.iiliacus, adductor longus, gracilis dan sartorius membawa hip ke 20° flexi dan pelvis mulai forward rotasi. Pelvis dan hip bergerak secara harmonis, terjadi forward rotasi pelvis saat hip flexi. Sedangkan rotasi backward pelvis berkaitan dengan hip extensi.

7. Midswing (MSw)
Ankle dalam posisi netral, otot bagian anterior ankle aktif, ini adalah gerakan yang membebaskan kaki dari lantai. Tibia mencapai posisi tegak lurus terhadap lantai saat lutut mencapai 60° flexi. Biceps femoris tetap aktif mengkontrol dengan eccentris kontraksi, walaupun momentum gerakan (primer) berlangsung secara pasif.
Di hip gracilis tetap aktif untuk membantu menambah hip flexi sampai 30°, juga menambah momentum kepada tungkai yang berayun kedepan. Sedangkan sartorius, adductor longus dan iliacus menjadi tidak aktif.

8. Terminal Swing (TSw)
Otot2 sebelah anterior ankle tetap aktif untuk mempertahankan ankle dalam posisi netral selama subphase terminal swing. Ini dalam rangka menjamin posisi ankle dalam posisi yang tepat saat heel contact di phase weight acceptance pada subphase initial contact berikutnya.
Aktifitas quadriceps secara concentris menjamin knee extension sampai posisi lutut netral, sedang kontrol gerakan dilakukan oleh hamstrings.
Hip tetap dalam posisi 30° flexi dan terjadi 5° forward rotasi pelvis. Otot yang tetap aktif adalah m.gracillis sebagai flexor hip. Kombinasi gerakan hip flexi, pelvis rotasi dan knee extensi berkontribusi pada step length

ABORSI

ABORSI 
 
BAB I
 PENDAHULUAN
1.     LATAR BELAKANG
Menjadi remaja berarti menjalani proses berat yang membutuhkan banyak penyesuaian dan menimbulkan kecemasan. Lonjakan pertumbuhan badani dan pematangan organ-organ reproduksi adalah salah satu masalah besar yang mereka hadapi. Perasaan seksual yang menguat tak bias tidak dialami oleh setiap remaja meskipun kadarnya berbeda satu dengan yang lainnya. Begitu juga kemampuan untuk mengendalikannya.
Ketika mereka harus berjuang mengenali sisi-sisi diri yang mengalami perubahan fisik-psikis-sosial akibat pubertas, masyarakat justru berupaya keras menyembunyikan segala hal tentang seks yang membuat tanda Tanya besar di kepala mereka. Tak tersedianya informasi yang akurat dan benar tentang kesehatan reproduksi memaksa remaja mencari akses dan melakukan eksplorasi sendiri. Arus komunikasi dan informasi mengalir deras menawarkan pertualangan yang menantang. Majalah, buku dan film pornografi yang memaparkan kenikmatan hubungan seks tanpa mengajarkan tanggung jawab yang harus disandang dan resiko yang harus dihadapi, menjadi acuan utama mereka. Hasilnya, remaja yang beberapa generasi lalu masih malu-malu kini sudah mulai melakukan hubungan seks di usia dini, 13-15 tahun.
Saat ini aborsi menjadi salah satu masalah yang cukup serius, dilihat dari tingginya tingkat atau angka aborsi dari tahun ke tahun. Membicarakan aborsi, sebenarnya membicarakan perempuan. Karena itu persoalan  aborsi adalah juga persoalan perempuan, perlu dielaborasi dan dicerahkan kepada pihak-pihak yang mengambil satu sisi perdebatan, yakni cara pandang tradisional yang justru mengesampingkan kepentingan perempuan sendiri.
Selama ini masih banyak yang memandang aborsi sebagai hitam dan putih yang sama sekali tidak dapat bersinggungan, hingga hanya tersedia 2 pilihan untuk menyikapinya yaitu pro atau kontra, setuju atau menolak. Perempuan dalam hal ini juga selalu dipandang sebagai pelaku tunggal aborsi, dimana masyarakat dan pemerintah seperti menutup mata dengan adanya permasalahan dalam aborsi yang mau tidak mau berkaitan langsung dengan kehidupan perempuan dan orang-orang di sekitarnya. Lelaki seakan menjadi bagian yang terpisahkan dalam permasalahan ini. Kehamilan tidak diinginkan ( KTD) terjadi karena adanya hubungan seksual antara lelaki dan perempuan. Dalam hal ini lelaki turut berperan serta mengakibatkan terjadinya KTD yang berbuntut pada aborsi. Lelaki dan perempuan memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam hal aborsi.
Ketakutan akan hukum dari masyarakat dan terlebih lagi tidak diperbolehkannya remaja putri belum menikah menerima layanan keluarga berencana memaksa mereka untuk melakukan aborsi yang sebagian besar dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa mempedulikan standar medis dan resikonya sehingga sering terjadi kematian terhadap ibu karena pendarahan yang tak kunjung berhenti.
2.     PERMASALAHAN
A.    Apa pengertian dari aborsi?
B.     Apa saja macam-macam jenis aborsi?
C.     Apa penyebab atau alasan seseorang melakukan aborsi?
D.    Metode atau teknik apa saja yang digunakan untuk aborsi?
E.     Apa resiko atau efek dari aborsi?
F.      Bagaimana solusi dari kasus aborsi tersebut?
3.     TUJUAN
A.    Untuk mengetahui dan memahami tentang aborsi yang terjadi pada remaja.
B.     Untuk mengetahui macam-macam jenis aborsi.
C.     Untuk mengetahui apa alasan seseorang melakukan aborsi.
D.    Untuk mengetahui metode atau teknik apa saja yang digunakan untuk melakukan aborsi.
E.     Untuk mengetahui bahwa masalah aborsi ini sangat serius dan membahayankan.
F.      Untuk mengetahui solusi dari tindakan aborsi.
BAB II
ABORSI
A.   Pengertian aborsi
Dalam istilah kesehatan aborsi didefinisikan sebagai penghentian kehamilan setelah tertanamnya telur ( ovum ) yang telah dibuahi dalam rahim ( uterus ) sebelum usia janin ( fetus ) mencapai 20 minggu.
Secara umun, aborsi diartikan sebagai pengguguran kandungan yaitu dikeluarkannya janin sebelum waktunya, baik itu sengaja ataupun tidak  y6ang biasa dilakukan saat janin berusia muda ( sebelum bulan ke 4 masa kehamilan).
Jadi, bisa disimpulkan bahwa aborsi adalah tindakan penghentian kehamilan atau pengguguran kandungan sebelum janin dapat hidup diluar kandungan ( sebelum usia 20 minggu kehamilan ) bukan semata untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil dalam keadaan darurat tapi juga bias karena sang ibu tidak menghendaki kehamilanya.
B.   Macam- macam jenis aborsi
Dilihat dari cara terjadinya, aborsi dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu sebagai berikut:
1.Aborsi spontan atau alamiah
Aborsi merupakan mekanisme alamiah yang menyebabkan terhentinya proses kehamilan karena keguguran kandungan sebelum berumur 28 minggu.
Aborsi spontan dalah aborsi yang berlangsung tanpa tindakan apapun. Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma.
Aborsi spontan dapat dikelompokkan lagi menjadi 5 kelompok, yaitu:
a)      Abortus imminens yaitu adanya gejala-gejalan yang mengancam akan terjadinya aborsi. Dalam hal ini kadang-kadang kehamilan masih dapat diselamatkan.
b)      Abortus incipiens yaitu terdapatnya gejala akan terjadinya aborsi, namun buah kehamilan masih berada di dalam Rahim. Dalam hal ini kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi.
c)      Abortus incompletes yaitu apabila sebagian dari buah kehamilan sudah keluar dan sisanya masih berada dalam Rahim. Pendarahan yang terjadi biasanya cukup banyak namun tidak berakibat fatal, untuk pengobatan perlu dilakukannya pengosongan rahim secepatnya.
d)     Abortus completes yaitu pengeluaran keseluruhan buah kehamilan dari Rahim. Keadaan ini biasanya tidak memerlukan pengobatan.
e)      Missed abortion yaitu keadaan dimana hasil pembuahan yang telah mati  tertahan dalam rahim selama 8 minggu atau lebih.
2.      Aborsi buatan atau sengaja
Aborsi buatan adalah suatu upaya untuk menghentikan proses kehamilan dengan sengaja dengan bantuan orang lain atau obat-obatan sebelum kandungan berumur 28 minggu, dimana janin yang dikeluarkan tidak bisa hidup di dunia luar.
Aborsi buatan di tinjau dari aspek hukum dapat digolongkan ke dalam 2 golongan yaitu :
a)      Aborsi buatan legal
Aborsi buatan legal adalah pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang dengan tujuan menyelamatkan nyawa ibu.
b)      Aborsi buatan ilegal
Aborsi buatan ilegal adalah pengguguran kandungan yang tujuannya  selain dari pada untuk menyelamatkan atau menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang.
C.   Penyebab terjadinya aborsi
         Penyebab-penyebab atau alasan-alasan seseorang melakukan aborsi adalah sebagai berikut:
1.Dari ketidaksiapan sang ibu
a)      Tidak ingin memiliki anak karena khawatir mengganggu karir atau sekolahnya.
b)      Tidak memiliki cukup uang untuk merawat anak.
c)      Tidak ingin memiliki anak tanpa ayah.
2.      Karena factor ketidaksengajaan atau alami
a)      Jika janin telah meninggal dalam kandungan.
b)      Terjadi pendarahan secara terus menerus pada sang ibu.
3.      Faktor kesehatan ibu
a)      Adanya penyakit ganas ( kanker servik ) pada saluran jalan rahim.
b)      Telah berulang kali mengalami operasi sesar.
c)      Gangguan kejiwaan pada ibu yang disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri.
Ada beberapa penyebab seseorang yang melakukan aborsi mengalami post abortion syndrome ( syndrome paska-aborsi) adalah sebagai berikut:
�           Aborsi tidak aman yang dilakukan oleh dukun beranak, tukang pijat atau dengan obat-obatan yang mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa.
�           Adanya infeksi disekitar kandungan paska aborsi.
�           Aborsi karena paksaan.
�           Tidak siap atau tidak mau menjadi ibu.
D.   Metode-metode atau teknik-teknik pengaborsian
Praktik aborsi dilakukan dengan beberapa macam teknik yaitu sebagai berikut:
1.      Kuret dengan cara penyedotan ( sunction )
Metode ini dilakukan pada janin berusia 1-3 bulan. Teknik ini dilakukan dengan memasukkan sebuah tabung ke dalam Rahim dan menyedot janin keluar ( terlepas dari dinding Rahim). Janin akan hancur dan tercabik-cabik menjadi potongan kecil-kecil yang dimasukkan kedalam sebuah botol.
Ketelitian dalam melaksanakan metode ini sangat perlu dijaga guna menghindari robeknya Rahim akibat salah sedot yang mengakibatkan pendarahan hebat dan terkadang dilakukannya pengangkatan Rahim.
2.      Teknik historotomi
Metode ini dilakukan pada janin berusia lebih dari 6 bulan. Cara ini menggunakan sebuah alat bedah yang dimasukkan melalui dinding perut dan rahim. Bayi beserta ari-ari serta cairan ketuban dikeluarkan dalam keadaan hidup atau sudah meninggal. Jika janin masih hidup, janin biasa dibunuh dengan menggunakan pil bunuh.
Metode ini memiliki resiko tertinggi untuk kesehatan wanita, karena ada kemungkina terjadi perobekan Rahim.
3.      Peracunan dengan garam ( salt poisoned )
Metode ini dilakukan pada janin berusia lebih dari 16 minggu ( 4 bulan ).
Ketika sudah banyak cairan yang terkumpul disekitar bayi dalam kantung bayi, sebatang jarum yang panjang dimasukkan melalui perut ibu ke dalam kantung bayi, lalu sejumlah larutan disedot keluar dan larutan garam yang pekat disuntikkan kedalamnya. Bayi yang malang ini akan menelan garam beracun itu dan ia amat menderita. Ia meronta-ronta dan menendang-nendang seolah-olah dia dibakar hidup-hidup oleh racun itu. Dengan cara ini, sang bayi akan mati dalam waktu kira-kira 1 jam, kulitnya benar-benar hangus. Dalam waktu 24 jam kemudian, sang ibu akan mengallami sakit beranak dan melahirkan seorang bayi yang sudah mati ( sering juga bayi ini lahir dalam keadaan masih hidup, biasanya mereka dibiarkan saja agar mati).
4.      Pil Roussell – Unclaf ( RU-486)
Pil ini merupakan 1 campuran obat buatan Perancis tahun 1980. Pengaborsiannya membutuhkan waktu 3 hari dan disertai kejang-kejang berat serta pendarahan yang terus menerus sampai 16 hari.
5.      Teknik Prostaglandin
Prostaglandin merupakan hormon yang diproduksi secara alami oleh tubuh dalam proses melahirkan. Injeksi dari konsentrasi buatan hormon ini ke dalam air ketuban memaksa proses kelahiran berlangsung, mengakibatkan Rahim ibu mengerut dan janin keluar sebelum waktunya dan tidak mempunyai kemungkinan untuk hidup sama sekali. Sering juga garam atau racun lainnya diinjeksi terlebih dahulu ke cairan ketuban untuk memastikan bahwa janin akan lahir dalam keadaan mati, karena tak jarang terjadi janin lolos dari trauma melahirkan secara paksa ini dan keluar dalam keadaan hidup.
Efek samping penggunaan prostaglandin tiruan iani adalah bagian dari ari-ari yang tertinggal karena tidak luruh dengan sempurna, trauma Rahim karena dipaksa melahirkan, infeksi pendarahan, gagal pernafasan, gagal jantung dan perobekan rahim.
E.    Resiko atau efek dari aborsi
1.      Efek jangka pendek
a)      Rasa sakit yang hebat.
b)      Pendarahan yang banyak.
c)      Infeksi serius disekitar kandungan, rongga panggul dan pada lapisan rahim.
d)     Bagian bayi yang tertinggal didalam Rahim.
e)      Shock atau koma.
f)       Merusak organ tubuh lainnya ( rusaknya rahim dan leher rahim).
g)      Kematian mendadak karena pendarahan hebat dan pembiusan yang gagal.
2.      Efek jangka panjang
a)      Tidak dapat hamil kembali.
b)      Keguguran kandungan pada kehamilan berikutnya.
c)      Kelahiran premature pada kehamilan berikutnya.
 
F.    Solusi dari kasus aborsi
Memang kasus aborsi tidak dapat kita hentikan, tetapi kita dapat mencegah meningkatnya kasus dengan cara kita sadar akan tindakan aborsi tersebut tidaklah baik. Solusi agar kita sadar bahwa aborsi itu dosa ialah beriman yang diwujudkan dengan:
1.      Setia kepada ajaran setiap agama yang melarang keras aborsi.
2.      Pembinaan kaum muda : memberikan pelajaran mengenai seks dan seksualitas yang benar.
3.      Ingat  ajaran agama yang tidak memperbolehkan untuk membunuh sesame manusia.
4.      Memikirkan resiko dari dilakukannya aborsi.
Selain itu, para dokter dan tenaga medis lainnya hendaklah selalu menjaga sumpah profesi dan kode etiknya dalam melakukan pekerjaan. Jika hal ini secara konsekwen dilakukan untuk pengurangan kejadian abortus buatan illegal akan secara signifikan dapat dikurangi.

BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
   Aborsi adalah tindakan penghentian kehamilan atau pengguguran kandungan sebelum janin dapat hidup diluar kandungan ( sebelum usia 20 minggu kehamilan ) bukan semata untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil dalam keadaan darurat tapi juga bias karena sang ibu tidak menghendaki kehamilannya.
Aborsi dibagi menjadi 2 jenis yaitu aborsi spontan atau alamiah dan aborsi buatan atau sengaja. Aborsi spontan atau alamiah dapat dibagi menjadi 5 yaitu Aborsi imminens, Abortus incipiens, Abortus incompletes, Abortus completes dan Missed abortion. Aborsi buatan atau sengaja dapat dibagi menjadi 2 yaitu aborsi legal dan aborsi illegal.
Alasan seseorang melakukan aborsi adalah karena factor ketidaksiapan sang ibu, factor kesehatan sang ibu dan factor ketidaksengajaan atau alami.
Metode atau teknik dalam melakukan aborsi adalah teknik sunction, teknik historotomi, salt poisoned, pil roussell-unclaf dan teknik Prostaglandin.
Resiko dari aborsi dalam jangka pendek adalah pendarahan yang banyak dan pembiusan yang gagal dapat mengakibatkan kematian, rasa sakit, shock atau koma, infeksi disekitar kandungan dan bagian tubuh bayi yang tertinggal. Reisko dari aborsi dalam jangka panjang adalah tidak dapat hamil lagi, keguguran kandungan dan kelahiran prematur pada kehamilan berikutnya.
Solusi atau pencegahan agar seseorang tidak melakukan aborsi adalah dengan menguatkan iman diri sendiri dan berfikir kedepan sebelum melakukan aborsi, memikirkan dampak atau resiko melakukan aborsi jika motif untuk melakukan aborsi bukan untuk menyelamatkan sang ibu melainkan karena sang ibu tidak menginginkan kehamilannya.
B.   Saran
1.      Bagi seorang wanita
Jika anda sedang memikirakan untuk melakukan aborsi, maka tenangkanlah pikiran anda. Aborsi bukanlah suatu solusi sama sekali. Aborsi akan membuahkan masalah-masalah baru yang bahkan lebih besar lagi bagi anda di dunia dan di akhirat.
2.      Bagi orangtua
Diharapkan bagi orangtua agar lebih memperhatikan keadaan anak khususnya anak perempuan seperti membatasi pergaulannya dan memberikan informasi awal tentang aborsi.
3.      Bagi tenaga kesehatan
Bagi tenaga kesehatan atau medis agar selalu menjaga kode etiknya dan sumpah profesi dalam melakukan atau mengaborsi seseorang.

fisioterapi dan tukang pijat

Fisioterapi, Apa Bedanya dengan Tukang Pijat? Menjadi seorang fisioterapis adalah menjadi tenaga kesehatan yang rumit. Bukan men...